Surabaya (KN) – Boikot parirurna pengesahan PAK APBD 2011 oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini sangat merugikan masyarakat. Selain berdampak pada terhambatnya program pengobatan gratis pasien Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) non-kuota, perseteruan Pemkot dan DPRD Surabaya itu juga berdampak pada rencana perbaikan sekolah yang rusak. Sekolah rusak dipastikan tidak akan tersentuh perbaikan hingga akhir tahun anggaran 2011 ini. Apalagi, waktu rencana perbaikan mepet dengan akhir tahun anggaran 2011 yang waktunya tinggal sebulan.

“Masih cukup banyak sekolah rusak yang kemungkinan tidak tersentuh perbaikan sampai akhir tahun anggaran 2011 ini. Kami di Komisi C DPRD Surabaya menemukan data jumlah sekolah rusak masih mencapai ratusan unit, dengan masing-masing kategori kerusakan,” kata Simon Lekatompessy, Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Kamis (1/12).

Secara rinci kata Simon, Sekolah Dasar (SD) se-Surabaya terdapat 468 sekolah dengan 181.428 siswa. Dari jumlah SD itu, ruang kelas yang kondisinya baik 1.873 lokal, rusak sedang 2.951 lokal, serta rusak berat 428 lokal. Sedangkan ruang laboratorium, kategori baik ada 175 lokal, serta rusak 85 lokal. Dan untuk perpustakaan, kondisi baik 211 lokal serta rusak 135 lokal.

Kondisi fisik bangunan SMP di Kota Surabaya juga demikian. Dari 52 sekolah SMP dengan 36.914 murid menempati 914 ruang kelas berikut masing-masing kondisi. Yaitu, baik 616 lokal, rusak sedang 186 lokal, dan berat 92 lokal. Kondisi laboratoriumnya, 66 lokal baik, 33 sisanya rusak. Ruang perpustakaan, 21 baik dan 9 lainnya rusak.

Di antara bangunan SD yang rusak maupun mangkrak karena rencana pembangunan gedung sekolah terbengkalai terdapat di SDN Sawunggaling I dan IV di Jl Ciliwung Surabaya. “Sejumlah ruang kelas di dua sekolah yang dibangun tahun 1980 melalui program Instruksi Presiden (Inspres) itu banyak yang rusak dan tidak lagi ada plafonnya,” jelas Simon.

Sementara Sutini, Kepala SDN Sawunggaling IV saat menerima Wakil Ketua Komisi C Simon Lekatompessy dan Reny Astuti anggota komisi C DPRD Surabaya, Kamis (30/11) mengatakan, kerusakan sejumlah ruang kelas di sekolahnya sudah lama. Selain asbes plafon banyak yang rontok, kayu kuda-kuda penyangga atap asbes juga lapuk dimakan rayap. Dindingnya juga hanya bersekat triplek yang sudah mulai mengelupas.

Bahkan, ada ruang kelas yang kemasukan air hujan saat hujan tiba, karena jendelanya mepet dengan rumah warga. Sehingga, agar air hujan tidak masuk ke ruang kelas pihak sekolah menutup celah kusen dengan fiber glass.

Kebocoran juga terjadi di gedung sekolah baru yang belum rampung pembangunanya hingga sekarang. Menurutnya, rencana pembangunan gedung baru tersebut terdiri dari tiga lantai. Gedung baru itu nantinya untuk SDN Sawunggaling I dan IV sebagai hasil merger atau penggabungan SDN Sawunggaling I, II, III, IV dan V. “Saat hujan tiba ruang kelas di lantai satu gedung baru juga banyak yang bocor. Kira-kira pengecorannya kurang rapat,” ungkap Sutuni.

Keluhan senada juga disampaikan Kepala SDN Sawunggaling I Bambang Sumedi. Karena plafon jebol, sekolah terpaksa menggantinya dengan memasang kain kafan dengan harapan saat hujan air tidak langsung menetes ke ruang kelas dan tidak mengganggu proses belajar mengajar.

Menurut Bambang, sebelumnya di kompleks SD tersebut tersebut terdapat lima sekolah, yakni SDN Sawaunggaling I, II, III, IV dan V. Namun, karena jumlah murid yang ditampung tidak memenuhi kuota akhirnya Dinas Pendidikan memutuskan merger sekolahan tersebut menjadi SDN Sawunggaling I serta IV. Penggabungan dilakukan sejak 2009.

Selanjutnya, pemkot melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang akan membangun 18 lokal kelas yang ada di unit gedung berlantai tiga tersebut. Nantinya, setiap lantai terdapat enam ruang kelas berikut ruang guru, kamar mandi dan ruang pendukung lain.

Namun faktanya, DCKTR hanya membangun enam kelas di lantai satu yang tuntas pembangunannya, sedangkan lantai dua serta tiga masih berupa lantai kosong, los atau belum ada dinding penyekatnya. “Inilah kondisi sekolahnya saat ini,” kata Bambang sambil menunjukan bentuk bangunan gedung sekolah baru yang mangkrak tersebut.

Reny Astuti menambahkan, dirinya sangat prihatin soal ini. Bahkan, dirinya mengaku tidak habis pikir dengan perencanaan Pemkot. ”Untuk gedung baru dibangun mulai 2009 dan 2010, tapi sampai sekarang masih mangkrak. Bahkan, pada APBD Surabaya 2011 tidak dianggarkan. Penganganggarannya di APBD 2012 akan dianggarkan lagi, dan celakanya besaran anggarannya hanya Rp 500 juta. Apa itu cukup?. Saya kira tidak cukup,” terangnya.

Menurutnya, ini menjadi bukti lemahnya perencanaan di Pemkot dan ada kesan pembangunannya tidak serius. Nantinya, pihaknya akan mencecar pertanyaan kepada Dinas Pendidikan (Dispendik), Bappeko maupun Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR). “Kasihan murid dan gurunya kalau gedung sekolahnya masih kondisi rusak seperti ini,” terangnya. (anto)

Korannusantara.com, 02 Desember 2011
http://korannusantara.com/perencanaan-dan-pengawasan-pemkot-lemah-banyak-sekolah-rusak-dan-mangkrak/